Cerita Kubalayasva dan Trusankun dalam Brahma Purana

KUBALAYASVA

Kubalayasva adalah salah satu dari raja2 keturunan Kakutsa yag di ceritakan dalam Ramayana anak dari Vikuksi yang memerintahkan kerajaannya. Ayahnya Kubalayasva bernama Vrhadasva.
Setelah Vrhadasva memerintah selama beberapa tahun ia memutuskan untuk ke hutan dan menyerahkan kerajaannya kepada anaknya Kubalayasva. Tetapi saat Vrhadasva ingin ke hutan Rsi Utanka datang untuk mencegah beliau supaya tidak pergi ke hutan karena di sana ada seorang raksasa yang kuat dan sakti bernama Dhundhu.  Tetapi iya tetap pergi ke hutan sebagaimna yang di putuskannya. Putranya yaitu Kubalayasva akan sanggup membunuh Dhundhu.
Kubalayasva dengan seratus putranya pergi ke tempat dimana Dhundhu berada. Setelah sampai Kubalayasva menyuruh putra-putranya untuk mencari Dhundhu  menyadari hal itu, Dhundhu kemudian menyerang putra-putra Kubalayasva dan membunuh mereka hingga yang tinggal hanya tiga orang. Putranya yang selamat itu bernama Drdasva, Candrasva, Kapilasva. Namun akhiranya Dhundhu dapat dibunuh Kubalayasva dari hasil pertarungan ini. Kubalayasva kemudian dikenal dengan nama Dhundhumara. Rsi Utanka memberkati putra-putra Kubalayasva yang telah meninggal hingga mereka langsung naik ke surga.

TRISANKU

Dari Dridasva terlahir seorang raja yang bernama Trayaruni. Trayaruni adalah seorang raja yang jujur dan mengikuti segala perintah agama. Akan tetapi putranya yaitu Sartyavrata sama sekali bertolak belakang dengan sifat ayahnya. Dalam kerajaan ada pendeta yaitu Rsi Vasistha menyarankan putra bliau yang jahat itu di singkirkan dari kerajaan dan Trayaruni pun mengikuti saran Rsi, maka Sartyavrata pun mulai hidup dengan para Candala ( orang buangan ) di luar kerajaannya.
Setelah beberapa saat Trayaruni meninggalkan kerajaan dan bermasuk untuk pergi ke hutan. Kerajaan itu pun tidak memiliki raja dan terancam anarkhi, selama dua belas tahun.
Visvamitra adalah seorang Rsi yang agung. Semntara semua ini sedang berlangsung beliau tidak ada di tempat karna beliau sedang bertapa di pinggir samudra yang meninggalkan anak dan istrinya. Karena terjadi kekeringan dan bencana kelaparan yang berkepanjangan di wilayah kerajaan. Dan istri dari Rsi Visvamitra itu memutuskan untuk menjual putra-putranya agar bisa mendapatkan makanan. Dia mengikat leher putranya dengan tali dan membawa mereka ke tempat penjualan. Disana dia menjual mereka dengan ditukar seribu ekor kerbau. Karena di leher anak-anaknya diikat tali maka mereka dinamakan Galava.
Kemudian raja Satyavrata mengetahui keadaan morar marit keluarga Rsi Visvamitra. Ia membebaskan Galava dan mulai memelihara keluarga sang Rsi. Ketika terjadi bencana kelaparan dimana-mana, ia mencuri sapi Rsi Vasista. Sebelumnya antara Rsi Vasista dengan dirinya telah terjadi hubungan yang tidak baik. Satyavrata telah di buang oleh beliau karena suatu kesalahan dan ia marah kepada Rsi Vasista. Setelah mncuri sapi itu lalu dia membunuhnya dan memakan daging itu bersama putra-putra Rsi Visvamitra.
Setelah mengetahui kelakuan Satyavrata itu sang Rsi menjadi amat murka. Beliau lalu mengutuk Satyavrata karna telah melakukan 3 dosa yaitu yang pertama kau telah memarahi ayahmu, yang kedua kau telah mencuri dan membunuh seekor sapi, dan yang ketiga kau telah memakan daging sapi yang dilarang untuk d makan. Maka karna ketiga dosa ini mali sekarang kau dinamakan Trisanku dan kau menetima kutukan abadi (kata tri berarti tiga, sanku berarti dosa).
Bagaimana pun juga Satyavrata telah memelihara kluarga Rsi Visvamitra saat sang Rsi sedang asik dalam meditasi beliau. Setelah beliau kembali, beliau sangat berterimakasih atas apa yang sudah dilakukan olet Trisanku dan beliau memberikan anugrah. Trisanku menerima sebuah anugrah agar ia bisa diijinkan naik ke surga dengan tubuh fisiknya. Dan anugrahnya pun dikabulkan dan Trisanku pun menjadi raja di kerajaan Trayaruna dan Visvamitra menjadi pemimpin para pendeta kerajaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Sagara, Indradyumna dan Purusottama Ksetra, dan Raja Sveta dalam Brahma Purana

Penciptaan dalam Brahma Purana