Hari Raya Saraswati

  I.            Pengertian Hari Raya Saraswati
Hari raya Saraswati adalah hari raya suci Agama Hindu yang diperinga 6 bulan sekali (210 hari) sekali, tepat hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung. Hari Saraswati merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan yang dilambangkan dengan seorang dewi yang membawah alat musik , Genitri, Pustaka Suci, Teratai-teratai, serta duduk diatas Angsa.
Saraswati adalah Dewi pelindung/pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah Dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Adapun arti dari simbol-simbol tersebut yakni:
a.       Dewi adalah simbol kekuatan yang indah , cantik, menarik, lemah lembut, dan mulia.
b.      Alat musik merupakan simbol seni budaya yang agung.
c.       Genitri adalah simbol dari kekekalan dan takterbatasan ilmu pengetahuan.
d.      Pustaka suci adalah simbul dari ilmu pengetahuan suci.
e.       Teratai adalah simbol kesucian Hyang Widi Wasa.

f.       Angsa adalah simbol dari kebijaksanaan untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk.

  II.            Proses Pelaksanaan Hari Raya Saraswati
Pelaksanaan hari suci Saraswati dilaksanakan mulai pagi hari sampai tengah hari yang merupakan waktu untuk memberikan penghormatan kepada Dewi Saraswati sebagai penguasa Wi?O huan yang diwujudkan dengan memberikan Banten Saraswati di atas buku-buku yang dikumpulkan pada satu tempat.
Pada pagi hari umat Hindu melaksanakan persembahyangan dimaksudkan bahwa pada pagi hari pikiran kita masih jernih belum dipengaruhi oleh kesibukan dan rutinitas kita, sehingga diharapkan mampu menerima anugrah dari Dewi Saraswati berupa ilmu pengetahuan yang baru.          
Pada malam harinya umat Hindu mengadakan Malam Sastra untuk membahas ajaran agama Hindu yang berguna dalam kehidupan sehari hari. Kegiatan Malam Sastra hendaknya diikuti oleh seluruh umat Hindu karena pada Malam Sastra kita memiliki banyak waktu serta momentum yang tepat untuk membahas kegiatan keagamaan Hindu serta segala sesuatu yang diperlukan dalam usaha mempertahankan dan mengembangkan ajaran agama Hindu.
      Setelah melaksanakan kegiatan Malam Sastra, besoknya Redite Pahing Sinta umat Hindu melaksanakan Banyu Pinaruh. Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pangaweruh yang artinya pengetahuan. Dengan melaksanakan banyu pinaruh diharapkan manusia tersadar akan sifatnya yang sejati. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna karena memiliki pikiran, dari pikiran manusia memiliki pengetahuan, dari pengetahuan manusia dapat menolong dirinya dari suka dan duka, dari putaran  kehidupan dan kematian menuju “Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Sagara, Indradyumna dan Purusottama Ksetra, dan Raja Sveta dalam Brahma Purana

Penciptaan dalam Brahma Purana

Cerita Kubalayasva dan Trusankun dalam Brahma Purana